Posted by: @lap2_Laut_Kidul | February 22, 2009

Perjalanan Hidup

Dua bulan berlalu, dan tak ada perubahan berarti dalam perjalanan hidup gue.Berharap ada sesuatu yang lain dalam hidup ini, ternyata hanya sebuah khayalan dan mimpi semata.

Metamorfosa hidup yang ku harapkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang ku inginkan. Aku merencana ini dan itu, merencana sebuah masa depan baru yang penuh dengan sejuta kebaikan, akan tetapi semuanya begitu sulit untuk direalisasikan. Begitu banyak halangan dan cobaan yang senantiasa datang dan datang setiap saat.

Benarkan orang yang akan baik kedepannya nanti akan selalu di uji dan diuji?Jika begitu, sampai kapan kesabaran ini harus ku pendam, masa depanku semakin melambaikan tangannya mengajakku untuk terus berlari jauh meninggalkan masa lalu yang hitam dan kelam dan juga berbau busuk.

Bilakah semuanya akan kutinggalkan sementara dalam diri ini tak ada kekuatan lagi untuk mengatakan tidak terhadap apa yang tak kuharapkan,tapi kuinginkan.

Advertisements
Posted by: @lap2_Laut_Kidul | November 19, 2008

Aku dan Kekasihku

Suatu ketika saat aku dan kekasihku masih menjalin hubungan indah berdua, saat itu kita saling bercanda dan ngobrol dengan asyiknya. Ditengah obrolan tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang biasa kaum hawa lontarkan. Dan sebuah pertanyaan standar di ajukan “Sayang…Apa kamu menyayangiku…??”Katanya sambil sedikit menunduk. Aku terdiam tanpa berekspresi sedikitpun. Kulihat dia semakin malu saat itu. Lalu ku jawab “Tidak…”, saat itu kulihat raut mukanya merah, entah marah atau entah karena malu mendengar jawabanku. Sesaat kemudian kami saling terdiam dan asyik dengan kediaman kami sendiri-sendiri. Aku terdiam dan dia pun terdiam, entah apa yang difikirkannya. Yang jelas saat itu aku tersenyum-senyum sendiri dalam hati.

“Sayang, apak kamu benar-benar menyayangi aku..??” tiba-tiba untuk kedua kalinya kekasihku bertanya. Aku memandang matanya dengan penuh heran dan sedikit jengkel. Lalu dengan tenang aku jawab “Tidak…”, kulihat dia semakin marah namun tak bisa berkata apa-apa. Lalu dia pun bertanya kembali “Kenapa…??”, “Kenapa untuk apa..??” aku balik bertanya. Dia malah terdiam. Entah apa yang sedang dia fikirkan. Aku semakin tertawa melihat tingkah kekasihku waktu itu. “Kenapa kamu jawab Tidak, saat aku bertanya apakah kamu menyayangi aku..??” tanyanya kemudian. Aku terdiam tak bisa berbicara. Aku menundukan wajahku dalam-dalam sambil mencoba menjernihakn perasaan dan fikiranku.

“AA…aku ingin bertanya sekali lagi, tolong jawab dengan jujur, apakah aa menyayangi dan mencintaiku..??” tanyanya sedikit memaksa sambil memegang tanganku. Aku kaget saat itu. Genggaman tangannya begitu erat dan kuat. Aku semakin terdiam dan dengan spontan aku jawab “Tidak…”. “Oh…begitu ya a?Baiklah kalau begitu…” jawabnya dengan penuh nada kecewa. Tiba-tiba dia duduk menjauh dari sampingku. Aku tersenyum kecil padanya melihat tingkahnya yang lucu dan kekanakan. Dia terdiam lama dan tak berkata apapun. Kulihat dia memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong dan rasa kecewa yang dalam.

Sesaat kemudian aku hentikan aktivitasku membaca buku saat itu. Lalu berdiri mendekatinya dan mencoba duduk disampingya sambil tersenyum mencoba mencairkan kekecewaan dihatinya. Kupandangi wajahnya dari depan sambil tersenyum simpul, dia pun menunduk. Kupegang erat tangannya sambil berkata. “Sayang…aku tidak menyayangimu…”, dia pun menatap mataku dalam-dalam. Kulihat matanya merah hendak meneteskan air mata. Aku semakin tersenyum.

Dengan tenang aku duduk disampingnya sambil memandang langit malam yang kelam bertaburan bintang. AKu menghembuskan nafas dalam dan memejamkan mataku mencoba merasakan betapa indahnya malam itu. “Sayang…” ucapku lirih. “Kenapa..???” ucap kekasihku. “Aku sungguh benar-benar tidak menyayangimu, juga sungguh benar-benar tidak mencintaimu, jika hanya dengan ucapan. Aku menyayangimu dengan hatiku, dan aku mencintaimu dengan jiwaku. Hati dan jiwa ini adalah murni milikmu saat ini. Tidak ada keinginan untukku menggangtikanmu dengan yang lain, sebab rasa sayangku untukmu. AKu memang tidak pernah mengatakan dan mengungkapkan perasaan cinta dan sayangku untukmu melalui ucapan lisan, tapi hati dan jiwa ini selalu mengungkapkannya untukmu setiap saat, tanpa pernah kau dengar dan tanpa pernah kau rasakan. Itulah cintaku yang terdalam untukmu sayang…” ucapku menjelaskan. Kemudian aku mekanjutkan kata-kataku saat dia masih terdiam dan mulai berkaca-kaca “Sayang…seribu kali kamu bertanya padaku tentang perasaan sayang dan cintaku padamu, maka seribu kali pula aku akan menjawab TIDAK untukmu. Sebab lisan ini terkadang bisa menipu hari dan rasamu, tetapi jawaban dihati dan jiwaku tidak akan mampu menipu dan membohongimu. Kamu mungkin tidak pernah mendengar jawabanku yang sesungguhnya, tapi kuharap hati dan jiwamu yang hanya untukku, bisa membaca dan mendengarnya, bahwa aku begitu sayang dan mencintaimu sepenuhnya”

“Sayang…aku mencintaimu dengan caraku dan bukan dengan cara kebanyakan orang yang selalu berkata indah dengan lisan-lisannya yang suka menipu sang kekasih. Aku mencintai dan menyayangimu dalam kesejatian yang benar-benar tulus ingin memilikimu apa adanya. Bukan karena apa yang ada padamu, dan bukan pula karena sesuatu yang indah dalam dirimu. Sebab sesuatu yang ada padamu bisa saja menghilang, dan sesuatu yang indah itu bisa saja juga memudar seiring keindahan lainnya yang terus menggoda. Aku menyayangimu dari rasa yang tak pernah dimiliki oleh lelaki yang lain. Aku juga mencintaimu dari jiwa yang berbeda dengan lelaki kebanyakan. Sebab aku punya caraku sendiri untuk mencintai dan menyayangimu. Kuharap engkau tidak pernah lagi ragu padaku dengan segala rasa dan cinta ini terhadapmu”

Selesai aku berkata demikian, kulihat dia menangis dan meneteskan air mata disimpul matanya yang indah. Dia terisak bagai anak kecil dalam dekapan ayahnya. Ku raih tangannya dan mencoba mendekapnya dalam hangatnya pelukanku. Dia memelukku erat sambil berkata “maafkan aku sayang…sekarang aku tahu betapa rasa sayangmu melebihi siapapun…aku tidak akan pernah ragu lagi padamu.”

Posted by: @lap2_Laut_Kidul | November 7, 2008

Hakikat Hidup Di Dunia

Kesombongan hanyalah milik ALLAH sepantasnya. Bukan manusia yang hanya sebagai makhluk bejat bersombong diri atas apa yang ada padanya. Bangga dengan apa yang kita miliki?Omong kosong, sebab semuanya akan kembali pada-Nya. Bukan sekarang, bukan hari ini, atau bukan saat ini memang, tapi waktu itu pasti akan datang.

Ketika roda dunia terus berputar, maka ketika itu pula manusia akan merasakan perputaran kehidupan yang nyata. Yang diatas, akan merasakan betapa di bawah menyakitkan, begitu juga sebaliknya. Hidup ini hanya sebentar kawan…buat apa harus mengganggu kehidupan orang lainnya.

Jangan merasa diri paling hebat dalam segala hal, ada hidup dan ada mati, itulah ukuran kehidupan. Orang baik di doakan baik oleh semua orang, dan menerima kebaikan atas kebaikan yang diperbuatnya, orang jahat, akan menerima keburukan dan balasan atas kejahatannya. Itulah sunatullah. Tinggal kita tunggu saja SUNATULLAH itu terjadi.

Posted by: @lap2_Laut_Kidul | November 5, 2008

Pengamen Jalanan Itu…

Satu malam, saat gue balik dari kantor, gue naek angkot jurusan depok menuju ke rumah, saat itu gue ngerasa capek banget, berfikir keras tentang kerjaan dan kelanjutan pekerjaan yang semakin membuat gue sumpek dan gak betah berlama-lama.Aku duduk memandang kosong ke arah luar jendela sambil menikmati semilir angin malam yang masuk jendela angkot karena jendelanya sengaja gue buka. Lama gue merenung dan membayangkan segala hal entah apa gerangan. Sampai akhirnya tidak jauh dari terminal angkot, saat mobil sedang melaju, dua orang anak muda berlarian hendak menaiki angkot yang sedang melaju lumayan cepat.

“Ah pengamen..” fikirku dalam hati. Aku langsung menundukan wajah sambil tidak begitu memperhatikan gerak dan sikap dari kedua pengamen tersebut. Tanpa dikomando, mereka memainkan musik hanya dengan menggunakan sepasang gendang sederhana dan gitar kecil. Tanpa sengaja, aku menoleh ke arah mereka yang dengan cuek bernyanyi melantunkan lagu-lagu yang gue kenal sekali. Sedikit aku tersenyum kepada mereka, dan mereka membalasnya dengan senyuman ramah meski sibuk dengan alat musik dan nyanyiannya.

Saat itulah tiba-tiba hatiku merasa malu sekali. “Ini hidup kawan…” lihatlah disekelilingmu saat ini. Masih banyak yang jauh kurang beruntung daripada diri loe sekarang. Loe yang sekarang sudah memperoleh sesuatu yang mungkin pengamen itu inginkan, justru malah selalu mengeluh dan mengeluh. Selalu merasa kurang dan berambisi besar untuk memperoleh hal yang jauh lebih besar sementara kemampuanmu yang pas-pasan. Sementara lihatlah pengamen itu kawan, mereka bersusah payah mengais rezeki hanya demi mengumpulkan hak mereka atas rezeki yang diperoleh orang lain untuk mereka, yang dititipkan oleh ALLAH SWT kepada loe dan orang-orang yang lebih beruntung dari mereka.

Mereka masih bisa tersenyum sambil menghibur orang lain, meski gue tahu hati mereka miris dengan kehidupan mereka sendiri. Jika gue boleh berkata, gue tahu mereka malu dengan keadaan mereka, gue tahu mereka tidak ingin seperti itu, tapi apalah daya, nasib juga yang telah membawa mereka harus seperti itu.

Aku semakin malu tatkala dengan penuh rasa sopan, mereka mengucapkan kata “terima kasih” atas apa yang yang diberikan oleh penumpang angkot yang gue tumpangi. Sungguh luar biasa. Seolah-olah gue mendapat teguran dari ALLAH SWT agar selalu qanaah dan bersabar diri atas apa yang gue alami. Hidup memang tidak selalu indah, tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Mengeluh, marah, tidak suka, emosi dan sebagainya adalah ekspresi sesaat yang lebih menunjukkan kelemahan diri kita dihadapan yang lain.

Sabar adalah kunci hidup yang sejak dahulu diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada kita sebagai umatnya.

Categories