Suatu ketika saat aku dan kekasihku masih menjalin hubungan indah berdua, saat itu kita saling bercanda dan ngobrol dengan asyiknya. Ditengah obrolan tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan yang biasa kaum hawa lontarkan. Dan sebuah pertanyaan standar di ajukan “Sayang…Apa kamu menyayangiku…??”Katanya sambil sedikit menunduk. Aku terdiam tanpa berekspresi sedikitpun. Kulihat dia semakin malu saat itu. Lalu ku jawab “Tidak…”, saat itu kulihat raut mukanya merah, entah marah atau entah karena malu mendengar jawabanku. Sesaat kemudian kami saling terdiam dan asyik dengan kediaman kami sendiri-sendiri. Aku terdiam dan dia pun terdiam, entah apa yang difikirkannya. Yang jelas saat itu aku tersenyum-senyum sendiri dalam hati.
“Sayang, apak kamu benar-benar menyayangi aku..??” tiba-tiba untuk kedua kalinya kekasihku bertanya. Aku memandang matanya dengan penuh heran dan sedikit jengkel. Lalu dengan tenang aku jawab “Tidak…”, kulihat dia semakin marah namun tak bisa berkata apa-apa. Lalu dia pun bertanya kembali “Kenapa…??”, “Kenapa untuk apa..??” aku balik bertanya. Dia malah terdiam. Entah apa yang sedang dia fikirkan. Aku semakin tertawa melihat tingkah kekasihku waktu itu. “Kenapa kamu jawab Tidak, saat aku bertanya apakah kamu menyayangi aku..??” tanyanya kemudian. Aku terdiam tak bisa berbicara. Aku menundukan wajahku dalam-dalam sambil mencoba menjernihakn perasaan dan fikiranku.
“AA…aku ingin bertanya sekali lagi, tolong jawab dengan jujur, apakah aa menyayangi dan mencintaiku..??” tanyanya sedikit memaksa sambil memegang tanganku. Aku kaget saat itu. Genggaman tangannya begitu erat dan kuat. Aku semakin terdiam dan dengan spontan aku jawab “Tidak…”. “Oh…begitu ya a?Baiklah kalau begitu…” jawabnya dengan penuh nada kecewa. Tiba-tiba dia duduk menjauh dari sampingku. Aku tersenyum kecil padanya melihat tingkahnya yang lucu dan kekanakan. Dia terdiam lama dan tak berkata apapun. Kulihat dia memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong dan rasa kecewa yang dalam.
Sesaat kemudian aku hentikan aktivitasku membaca buku saat itu. Lalu berdiri mendekatinya dan mencoba duduk disampingya sambil tersenyum mencoba mencairkan kekecewaan dihatinya. Kupandangi wajahnya dari depan sambil tersenyum simpul, dia pun menunduk. Kupegang erat tangannya sambil berkata. “Sayang…aku tidak menyayangimu…”, dia pun menatap mataku dalam-dalam. Kulihat matanya merah hendak meneteskan air mata. Aku semakin tersenyum.
Dengan tenang aku duduk disampingnya sambil memandang langit malam yang kelam bertaburan bintang. AKu menghembuskan nafas dalam dan memejamkan mataku mencoba merasakan betapa indahnya malam itu. “Sayang…” ucapku lirih. “Kenapa..???” ucap kekasihku. “Aku sungguh benar-benar tidak menyayangimu, juga sungguh benar-benar tidak mencintaimu, jika hanya dengan ucapan. Aku menyayangimu dengan hatiku, dan aku mencintaimu dengan jiwaku. Hati dan jiwa ini adalah murni milikmu saat ini. Tidak ada keinginan untukku menggangtikanmu dengan yang lain, sebab rasa sayangku untukmu. AKu memang tidak pernah mengatakan dan mengungkapkan perasaan cinta dan sayangku untukmu melalui ucapan lisan, tapi hati dan jiwa ini selalu mengungkapkannya untukmu setiap saat, tanpa pernah kau dengar dan tanpa pernah kau rasakan. Itulah cintaku yang terdalam untukmu sayang…” ucapku menjelaskan. Kemudian aku mekanjutkan kata-kataku saat dia masih terdiam dan mulai berkaca-kaca “Sayang…seribu kali kamu bertanya padaku tentang perasaan sayang dan cintaku padamu, maka seribu kali pula aku akan menjawab TIDAK untukmu. Sebab lisan ini terkadang bisa menipu hari dan rasamu, tetapi jawaban dihati dan jiwaku tidak akan mampu menipu dan membohongimu. Kamu mungkin tidak pernah mendengar jawabanku yang sesungguhnya, tapi kuharap hati dan jiwamu yang hanya untukku, bisa membaca dan mendengarnya, bahwa aku begitu sayang dan mencintaimu sepenuhnya”
“Sayang…aku mencintaimu dengan caraku dan bukan dengan cara kebanyakan orang yang selalu berkata indah dengan lisan-lisannya yang suka menipu sang kekasih. Aku mencintai dan menyayangimu dalam kesejatian yang benar-benar tulus ingin memilikimu apa adanya. Bukan karena apa yang ada padamu, dan bukan pula karena sesuatu yang indah dalam dirimu. Sebab sesuatu yang ada padamu bisa saja menghilang, dan sesuatu yang indah itu bisa saja juga memudar seiring keindahan lainnya yang terus menggoda. Aku menyayangimu dari rasa yang tak pernah dimiliki oleh lelaki yang lain. Aku juga mencintaimu dari jiwa yang berbeda dengan lelaki kebanyakan. Sebab aku punya caraku sendiri untuk mencintai dan menyayangimu. Kuharap engkau tidak pernah lagi ragu padaku dengan segala rasa dan cinta ini terhadapmu”
Selesai aku berkata demikian, kulihat dia menangis dan meneteskan air mata disimpul matanya yang indah. Dia terisak bagai anak kecil dalam dekapan ayahnya. Ku raih tangannya dan mencoba mendekapnya dalam hangatnya pelukanku. Dia memelukku erat sambil berkata “maafkan aku sayang…sekarang aku tahu betapa rasa sayangmu melebihi siapapun…aku tidak akan pernah ragu lagi padamu.”